Rabu, 09 April 2014

k3-2



SERAUT KENENGAN DI TANAH PASUNDAN
Karya:Mohammad Abror /9E/20
Diwaktu fajar yang mulai menyingsing,kereta yang aku naiki perlahan-lahan berhenti di setasiun Bandung.Akupun bergeges meninggalkan kereta.
Aku:                (berhenti sejenek di setasiun dan tersenyum bahagia sambil memendang tulisan setasiun Bandung)Hal yang selama ini aku impikan akhirnya terwujud juga,tak sangka jerih payahku menabung selama ini membuatku mengijakan kaki untuk yang pertama kalinya di Tanah Pasundan.Negeri yang aku impikan sejak dulu.
Di depan setasiun,Pamamku telah menunggu kedatanganku dari tadi.
Paman:          (berdidri tegak sanbil tengak-tengok memendang semua orang yang baru turun dari kereta)Di mana ya,keponakanku tercinta,kok masih belum kelihatan juga?
        Setelah aku berada di depan setasiun,aku melihat paman yang sedang bingung karena menungguku dari tadi.
Aku:                Nah,itu dia paman.(bergegas menghampirinya)
Aku:                Assalammualaikum paman.(sambil bersalaman dan berpelukan)
Paman:Akhirnya kamu sampe di Bandung jugadengan selamat.(dengan ekspresi yang senang)
        Kami segera pergi menuju rumah paman.Tiba di rumah paman aku langsung makan malam bersama paman dan istrinya.
Paman:Ni,makan makanan khas sunda,ada sayur kikil,ikan gurameh goreng,sayur pare,sayur tuge,ada sembel dan lalaban.
     Aku:          ehmm…enek paman masakannya.
        Setelah itu kemudian aku tidur.Dan keesokan harinya,di pagi yang masih gelap sebelum subuh,aku keluar dan duduk di depan rumah.Seketika itu aku melihat seorang gadis berselendang merah yang lewat di depan rumah sambil membawa rinjing.
Aku:                        Siapa dia ya,pagi-pagi gini kok ada gadis lewat yang membawa rinjing lagi? Tumben,biasanya kan pagi-pagi gini gak ada yang berani lewat sini.Jalan desa kan masih gelap.(berfikir-fikir penasaran).
        Pagi harinya,aku menanyakan kejadian yang aku alami kepada paman.
Aku:                        Paman,aku tadi sebelum waktu subuh melihat gadis berselendang merah lewat depan rumah sambil membawa rinjing,emangnya itu siapa ya paman?kok ada di pagi yang masih gelap ada gadis lewat,biasanya kan gak ada yang berani lewat.
Paman:      (merasa bingung dengan pertanyaanku)mang ada apa ?di sini kan gak ada yang berani lewat.Itu yang di lihat kamu hantu mungkin.
Aku:                        (merenung dalam hati dan pikiran)Gak mungkin lah itu hantu,jelas-jelas tadi aku melihatnya itu seorang gadisyang sangat cantik,tanpillanya juga kelihatannya orang.
        Di hari selanjutnya tepatnya jam 3 dini hari,aku kembali keluar  ke depan rumah.Lima menit kemudian,gadis berselendang merah itu lewat.Tapi,berbeda dengan pagi kemarin,gadis itu sekarang lewat dan berhenti sejenek melihatku,rambutnya yang panjang terbelai oleh desiran angin fajar,dan senyumnya yang sangat manis membuatku tak bias berkata-kata lagi.Seketika gadis itu pergi,aku langsung mengejarnya,
Aku:                        He tunggu,(berlari mengejar dia)
Aku:                        Maaf kamu siapa ya?kok pagi-pagi yang masih gelap sering lewat depan rumah paman ku.Padahal kata pamanku gak ada yang berani lewat sini sampe jam lima pagi.Ini kan masih jam setengah empat pagi,sebentar lagi subuh.(berbicara dengan tergesa-gesa)
Gadis:( sambil menjawab tersenyum manis dan dengan suara yang lembut)Aku hanya seorang gadis yang sehari-harinya lewat sini membawa dagangan nenekku dengan rinjing ini untuk dijual di pasar.
Aku:                        Tapi,siapa namamu?dan dimana kamu tinggal?
        Dia tidak menjawab pertanyaanku dan dia lansung pergi saja dengan rinjing bawaannya.
Sebenarnya aku masih tak percaya gadis se cantik dia pagi-pagi gini berani lewat sini sendirian.
        Di pagi ini yang masih gelap,aku kembli menunggu kedatangannya.Kali ini aku langung menunggunya di jalan.
Gadis:         Sudah menunggu lama ya,!(sambil tersenyum)
Aku:                        Engga jug kok.Eh,aku boleh gak ikut nganterin kamu ke pasar?
Gadi:           Boleh,asalkan kamu mau.(terenyum manis)
        Akupun menemani dia ke pasar sambil membantu membawa dagangannya.
        Hari demi hari telah aku raungi di tanah pasundan ini,setiap pagi menjelang fajar,aku selalu mengantarkan gadis berselendang merah yang membawa rinjing menuju pasar.Entah berapa banyak candaan-candaan di antara kami berdua.Seolah-olah kami sudah seperti kakak dan adek sendiri.
            Namun,dihari terakhirku liburan di Bandung,pagi hari itu aku tak sempat berpamitan kepada dia.Entah apa dia merasa   kehilanganku ataupun tidak.Yang jelas aku sangat merindukan dia,sesekali dipikiranku terbayang-bayang dia.Apakah dihatiku saat ini ada perasaan cinta yang membara,ataupun semua kebersamaanku bersama dia hanya seraut kenangan saja di Tanah Pasundan yang tak akan pernah ku lupakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar